jalankeluar.hotline@gmail.com

Viralnya Aldi’s Burger: Strategi Chaos Marketing Apakah Efektif di Industri F&B?

Fenomena viralnya Aldi's Burger membuat kita juga bertanya-tanya, bagaimana bisa? Simak ulasan lengkapnya disini.
Daftar Isi

Viralnya Aldi’s Burger

Akhir-akhir ini kamu sering buka media sosial seperti Instagram, TikTok, hingga Threads? Lihat ada sesuatu yang viral? Betul, yang kami maksud adalah Aldi’s Burger milik Aldi Taher. 

Kamu pasti pernah melihat komentar Aldi Taher yang berbunyi: 

“Yuk dibeli burgernya Aldi’s burger cempaka putih rotinya lembut daging nya juicy lucy mahalini rizky febian bisa pesen online”

Strategi ini dilakukan secara konsisten oleh sang pemilik, Aldi Taher. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat seperti spam yang mengganggu. 

Namun, sebagai praktisi bisnis F&B, kita perlu melihat lebih dalam. Apakah ini sekadar aksi nekat, atau sebuah strategi marketing yang brilian di tengah bisingnya kompetisi digital? 

viralnya aldis burger yang diposting oleh aldi taher di media sosial threads
sumber: Threads @alditaher.official

1. Mengenal Fenomena “Chaos Marketing”

Dalam dunia pemasaran, apa yang dilakukan Aldi Taher sering disebut sebagai Chaos Marketing atau Attention-Grabbing Strategy. Di tengah mahalnya biaya Facebook Ads atau Endorsement artis, Aldi memilih jalur gerilya.

Prinsipnya sederhana: Visibility adalah segalanya. Dengan muncul di kolom komentar akun-akun dengan traffic tinggi, ia mendapatkan eksposur gratis ke jutaan mata. 

Disaat kita sudah terbiasa pada sebuah pola yang estetik, Aldi Taher justru tampil dengan gayanya bar-bar dengan tampil dimana saja mempromosikan jualannya. 

Ini adalah bentuk social commerce yang paling mentah namun efektif untuk membangun brand awareness dalam waktu singkat. 

2. Mengapa “Spamming” Ini Berujung Cuan?

Secara psikologis, ada dua hal yang membuat strategi Aldi’s Burger bekerja:

  • Top of Mind Awareness: Saat orang merasa lapar dan ingin makan burger, nama “Aldi’s Burger” muncul di memori mereka bukan karena iklan yang keren, tapi karena frekuensi munculnya nama tersebut di media sosial.
  • The Power of Narrative: Aldi seringkali membumbui “spam”-nya dengan narasi personal, seperti “dagingnya juicy lucy.” Hal ini menciptakan sisi humanis yang memicu rasa empati (pity-buying) yang kemudian berubah menjadi rasa penasaran. 

Fenomena ini seakan ngebypass faktor-faktor lainnya yang membuat bisnis F&B berkembang. 

3. Personal Branding sebagai “Pintu Masuk”

Aldi’s Burger adalah contoh nyata di mana Personal Branding pemilik menjadi penggerak utama bisnis. Bayangkan saja, beliau sudah ada industri hiburan sejak 2001 dan ia sudah memiliki persona yang kuat (anchor) sebagai senjatanya

Di industri F&B yang sangat kompetitif, orang tidak hanya membeli makanan; mereka membeli “cerita” atau sosok di baliknya. 

Namun, ada catatan penting: Personal branding hanyalah pintu masuk. 

Ketika konsumen akhirnya datang karena rasa penasaran, kualitas produk burger itu sendiri yang akan menentukan apakah mereka akan menjadi pelanggan setia atau hanya pembeli satu kali (one-time buyer).  

nex carlos datang ke outlet aldi's burger
sumber: Threads @nexcarlos

4. Sisi Operasional: Apakah Strategi Ini Sustainable?

Dari sudut pandang Food Trends, strategi ini sangat kuat di tahap Awareness. Namun, tantangan bagi Aldi’s Burger ke depan adalah:

  • Kualitas Konsistensi: Bisnis F&B yang viral karena “sosok” seringkali goyah jika standar rasa tidak dijaga di setiap cabang.
  • Kelelahan Konsumen: Strategi spam memiliki masa kedaluwarsa. Jika dilakukan terlalu lama tanpa inovasi produk, audiens bisa merasa jenuh. 

Dari pembahasan sebelumnya, Aldi Taher menjual sebuah “Anomali” dengan mencuri perhatian masyarakat. Orang-orang menjadi FOMO karena penasaran dengan produk burgernya. 

Namun kita juga tahu, viralitas tidak selalu sama dengan loyalitas

Berdasarkan pengalaman kami, produk yang viral rata-rata memiliki fase honeymoon-nya di 1-3 bulan pertama. Langkah selanjutnya adalah menjaga konsistensi dari produk itu sendiri. 

5. Pelajaran untuk Pemilik Bisnis F&B

Dari rangkaian fenomena yang dilakukan oleh Aldi Taher, Apa yang bisa kita pelajari dari viralnya Aldi’s Burger?

  1. Jangan Takut Menjadi “Beda”: Di dunia yang penuh dengan foto makanan estetik, terkadang cara yang tidak konvensional justru lebih menarik perhatian.
  2. Manfaatkan Traffic yang Sudah Ada: Daripada membangun audiens dari nol, manfaatkan kolaborasi atau “hadir” di tempat audiens Kamu berkumpul.
  3. Produk Adalah Raja, Marketing Adalah Ratu: Marketing bisa membawa orang ke toko Kamu, tapi hanya produk yang enak yang bisa membuat mereka datang kembali.

Untuk kamu yang sedang mengawali start-up F&B kamu, ini adalah salah satu studi kasus yang menarik yang bisa dijadikan referensi untuk mengembangkan bisnis.

Kesimpulan

Aldi’s Burger bukan sekadar fenomena lucu-lucuan. Itu adalah bentuk sebuah kejujuran tanpa “gimmick” apapun. Itulah yang menjadi magnet

Ia adalah pengingat bagi para pemilik bisnis bahwa di era digital, kreativitas tidak selalu harus mahal. Kadang, modal jempol dan konsistensi tinggi jauh lebih berharga daripada budget iklan jutaan rupiah.

Bagaimana dengan bisnis kamu? Apakah kamu sudah cukup berani untuk “menonjol” di tengah keramaian? Atau merasa dalam fase yang stagnan?

Jika kamu merasa butuh konsultasi tentang kondisi bisnis F&B kamu, yuk segera cari tahu Jalan Keluarnya bersama kami.